BSMI SURABAYA PEDULI KEMANUSIAAN
Bojonegoro (27/02) – Banjir yang terjadi di Kabupaten Bojonegoro tahun ini memang tidak sebesar tahun lalu, yang mencapai kota, tapi di beberapa desa terdapat jalan desa yang masih tergenang air. Genangan air akibat meluapnya sungai bengawan Solo selama 4 hari ini, masih terdapat di Desa Sekaran, Mulyorejo dan Mulyoagung Kecamatan Balen. Akibat genangan yang tingginya mencapai paha orang dewasa ini, jalan desa yang menghubungkan tiga desa di Kecamatan Balen dengan desa lainnya masih terputus.
Menurut pantauan relawan kemanusiaan dari Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) Cabang Surabaya pada Rabu-Kamis (26-27/02), akses jalan desa menuju 4 RT di Mulyoagung masih tergenang air, dengan ketinggian maksimal 1 meter lebih. Akibatnya 300 KK yang mendiamai 4 RT tersebut, yakni RT 11 sampai RT 14 RW 04 desa Mulyoagung terputus. Relawan BSMI bersama warga Mulyoagung, harus menaiki perahu tradisional untuk mengirimkan bantuannya kepada kurang lebih 1000 warga. “Saat kami datang kesana malam hari, listrik padam, dan mereka membutuhkan bantuan, hingga saat ini bantuan masih terbatas” terang Achmad Zakaria, humas BSMI Surabaya ketika menjumpai warga dalam pengobatan umum yang diadakan BSMI di desa Mulyoagung.
Zakaria menambahkan, banjir tahun ini selain disebabkan oleh meluapnya Bengawan Solo dari arah hulu, juga diakibatkan oleh naiknya curah hujan di Bojonegoro, khususnya di Kecamatan Balen, hingga 3 hari lalu. “Saat ini, baru pengobatan dan bantuan logistik yang bisa kami berikan kepada mereka” ujarnya. Selain itu, sekitar 70 hektar sawah warga juga dikabarkan rusak akibat banjir tiga hari ini. Menurut salah seorang warga RT 13 RW 04 Mulyoagung, Jamilah (60), warga tidak mengungsi keluar, karena kalau malam listrik padam dan menjaga harta benda mereka. “Sudah empat hari kami menunggu surutnya air, sehingga kami bisa memakai jalan desa untuk keluar desa” ujar Jamilah kepada tim medis BSMI Surabaya yang memberikan pengobatan di RT 13 pada Rabu-Kamis (26-27/02). Jamilah, bersama 60 KK yang ada di RT 13 harus menunggu rumah mereka dalam kondisi gelap gulita akibat aliran listrik padam sejak 4 hari lalu.
Matnur (32) yang rumahnya dipakai sebagai pos kesehatan BSMI mengutarakan, warga sudah terkena penyakit gatal-gatal, penyakit kulit, ISPA, flu dan batuk akibat 4 hari tergenang air. “ Kami yang terisolir jalan desa ini, belum mendapat pengobatan hingga sekarang” keluhnya kepada dokter Syaiful Anwar, relawan medis BSMI sebelum pengobatan dimulai. BSMI sendiri mengirim bantuan obat-obatan dan logistik berupa makanan mie instan dan biskuit senilai 7 juta rupiah beserta 4 dokter, 4 paramedis dan 4 relawan umum.
Sementara itu, pantauan tim BSMI lainnya, beberapa desa lain masih membutuhkan bantuan. Seperti Desa Kedung Bendo di Kecamatan Balen. BSMI melakukan pengoabatan kepada 100 warga disana, kamis (27/02) dari pagi hingga siang, lalu dilanjutkan dengan memberikan bantuan di desa Kenongo perbatasan Bojonegoro – Tuban.
Menurut Humas BSMI Surabaya, Achmad Zakaria, banjir kali ini masih membuat status siaga 2 , terutama di kecamatan Kota dan Kanor. “ Perbedaannya dengan tahun lalu, beberapa desa kini sudah tergenang air secara sporadis” terangnya.
Karena itu, lanjut Zakaria, LSM Kemanusiaan harus bahu-membahu dalam mendistribusikan bantuan, terutama kesehatan dan logistik. “ Hari ini BSMI menggandeng Persatuan Wartawan Bojonegoro PWB mendistribusikan bantuan dan pengobatan di desa Kenongo perbatasan Tuban- Bojonegoro” terangnya. Pemerintah, warga dan LSM diharap bahu-membahu untuk membantu korban banjir Bojonegoro tahun ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar